Kamis, 04 Juni 2009

APLIKASI QUANTUM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH ALIYAH

APLIKASI QUANTUM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN

BAHASA ARAB DI MADRASAH ALIYAH

Oleh : MOHAMMAD TAYYIB, S.Ag

Pendahuluan

Berbagai metode telah ditawarkan oleh pakar pedagogis untuk mengupayakan pencapaian hasil belajar yang terbaik bagi peserta didik. Namun demikian hasil yang maksimal sesuai dengan keinginan para pelaksana pendidikan belum didapatkan. Model-model pembelajaran klasik seperti model pembelajaran Brigs, Banathy, PPSI, Kamp, CBSA, dan IDI belum dapat dikatakan sepenuhnya berhasil mengantarkan peserta didik memenuhi tujuan belajarnya.

Dewasa ini beberapa lembaga pendidikan mencoba menerapkan model pembelajaran baru yang ditawarkan oleh Popy De Porter yang dikenal dengan model quantum. Model ini pada esensinya tidak jauh berbeda dengan model CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), dimana keduanya menempatkan murid sebagai pelaku utama dalam pembelajaran. Prinsip utama dalam aplikasi model ini adalah melibatkan seluruh benda yang ada dalam ruang belajar sebagai media yang akan membantu siswa memahami pelajaran. Semuanya berbicara dan semuanya mendengar adalah contoh dari prinsip model ini yang sangat membantu pengajar untuk mengantarkan siswa aktif dalam proses pembelajaran tersebut.

Model pembelajaran quantum, sesuai dengan sifatnya yang menekankan aspek komonikatif dan dialogis, dimungkinkan dapat diterapkan dalam semua jenis pelajaran dan dimanapun serta tingkatan apapun suatu lemabag pendidikan dilaksanakan. Model pembelajaran quantum (Quantum Teaching) sering juga disebut dengan tekhnik pembelajaran modern yang sangat menekankan adanya pemberdayaan dan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap apapun yang dicapai oleh peserta didik.

Berangkat dari keinginan untuk menemukan rumusan terbaru dalam pembelajaran bahasa Arab, maka tulisan ringkas ini mencoba untuk menawarkan konsep aplikasi tekhnik pembelajaran quantum dalam pelajaran bahasa Arab. Jenjang Madrasah Tsanawiyah sengaja dipilih untuk mencocokkan dengan–


Kepala MAS. Miftahul Ulum Sumberjati - Pamekasan.


setidaknya dalam analisis penulis¾kondisi peserta didik di tingkat tersebut yang masih sangat memerlukan bimbingan guru pengajar secara penuh.

Pengertian Quantum Teaching

Quantum teaching terdiri dari dua kata yaitu quantum dan teaching. Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya sedangkan teaching adalah proses pembelajaran yang berarti transfer ilmu pengetahua dari guru kepada murid. Dengan demikian quantum teaching dapat diartikan model pembelajaran yang menekankan pada pengubahan kecerdasan dan kemampuan siswa menjadi cahaya bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Arab, Quantum teaching berarti penggubahan kecerdasan dan kemampuan peserta didik bahasa Arab yang telah dimiliki sejak Madrasah Ibtidaiyah menjadi cahaya yang akan menerangi mereka dalam proses pembelajaran selanjutnya. Sebagian siswa Madrasah Tsanawiyah telah sedikit banyak mengenal karakter atau dialek bahasa Arab, meskipun sifatnya sangat sederhana.

Asas Utama Dan Prinsip Pelaksanaan Quantum Teaching

Asas utama dalam pembelajaran dengan pendekatan model quantum adalah “bawalah dunia mereka ke dunia kita”, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Dari asas ini dapat dipahami bahwa memasuki dan mengenal dunia siswa adalah langkah utama untuk mendapatkan hak mengajar. Untuk memasuki dunia siswa diperlukan jembatan yang berupa pengetahuan tentang latar belakang tingkat intelektualitas, karakter, keperibadian dan kecendrungan minat dan bakat siswa. Demikian pula jembatan itu akan mengantarkan guru pada pengambilan langkah dalam memprediksi sesuatu yang menjadi harapan dan kemauan peserta didik pada masa yang akan datang.

Dalam tataran aplikatif, model pembelajaran quantum menekankan pada kemampuan guru untuk mengkaitkan materi pelajaran yang sedang diajarkan dengan pengalaman, peristiwa, perasaan dan pikiran yang pernah atau sedang dialami siswa. Setelah keterkaitan tersebut tercipta, maka guru akan mampu membawa dunia murid masuk kedunianya, dan disaat itulah waktu yang tepat


untuk memberikan informasi baru yang akan masuk pada dunia siswa. Tekhnik ini akan membantu siswa untuk lebih cepat memahami materi pelajaran.

Tekhnik quantum sangat cocok diterapkan dalam materi pelajaran bahasa Arab. Materi pelajaran bahasa Arab yang berkisar antara :محادثة,مفردات, قراءة, ,قواعد, dan انشاء , sangat memiliki keterkaitan dengan dunia siswa yang dalam kesehariannya berbahasa Indonesia. Sub-sub materi tersebut juga dijumpai dalam struktur pembicaraan mereka dalam bahasa Indonesia, demikian pula topik dan cakupan sub-sub materi tersebut dapat dikaitkan dengan dunia siswa di luar pelajaran.

Sedangkan prinsip quantum teaching terdiri dari lima prinsip dasar berikut:

  1. Segalanya berbicara

Perinsip ini mempunyai pengertian bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi di ruang belajar mengirim pesan belajar. Segala sesuatu itu bisa berupa, perkataan guru, bahasa tubuh, bahasa wajah, gambar-gambar di dinding, dan apapun yang terjadi saat pelajaran berlangsung bisa menjadi media penyampaian pelajaran.

Dalam pembelajaran bahasa Arab prinsip ini sangat dibutuhkan. Seluruh media yang ada dapat menjadi pengirim pesan dan menjadi alat bantu bagi siswa untuk memahami materi pelajaran. Dengan demikian guru dalam menyampaikan pelajaran tidak harus monoton menggunakan bahasa lisan.

  1. Segalanya bertujuan

Usaha guru untuk menggubah kecerdasan siswa menjadi cahaya, mempunyai tujuan agar siswa memahami pelajaran secara mandiri. Demikian pula usaha-usaha yang lain yang berupa penggunaan segala sesuatu menjadi media pembelajaran harus mempunyai tujuan yang pasti. Hal ini juga berlaku dalam pembelajaran bahasa Arab.

  1. Pengalaman sebelum pemberian nama
Proses belajar yang paling efektif akan dicapai ketika siswa telah memiliki pegalaman sebelum mereka mengenal nama dari materi yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran bahasa Arab hal ini dapat


dicontohkan ketika guru akan mengajarkan محادثة dengan tema صلاة الجماعة siswa diarahkan untuk mengingat hal-hal yang terakait dengan proses shalat berjemaah. Dengan demikian alur dari percakapan tersebut akan mudah diikuti oleh siswa.

  1. Akui setiap usaha

Belajar merupakan proses. Dengan demikian siswa akan senantiasa mengalami kesulitan-kesulitan dalam melatih kemampuannya untuk mencapai hasil sesuai dengan yang ditargetkan. Untuk mencapai hasil tersebut siswa akan berusaha dengan segala kemampuannya. Oleh karena itu segala bentuk usaha tersebut harus dihargai.

  1. Segala yang layak dipelajari berarti layak pula dirayakan

Perinsip ini merupakan kelanjutan dari perinsip sebelumnya kalau pada perinsip sebelumnya guru harus mengargai segala usaha anak didiknya, maka pada perinsip ini guru haruis merayakan keberhasilan yang diraih siswa, sekecil apapun keberhasilan tersebut. Dalam pembelajaran bahasa Arab sulit ditemukan seorang siswa yang langsung memiliiki kemampuan berbhasa arab yang baik, oleh kerena itu seperti apaun kemajuan yang dicapai siswa terseebut maka ia layak mendapatkan penghargaan dari keberhasilannya tersebut.

Rancangan Pembelajaran Dengan Tekhnik Quantum

Seluruh rancangan pembelajaran dengan tekhnik quantum dikenal dengan singkatan TANDUR yang berarti Tumbuhkan, Alami, Namakan, demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. TANDUR merupakan rancangan pembelajaran yang dinamis dan cocok diterapkan dikelas manapun dengan materi pelajaran apapun. Penerapan teknik ini sangat efektif untuk mengaktualisasikan kecerdasan siswa sehingga siswa dapat meraih kesuksesan.

Lebih rinci rancangan pembelajaran TANDUR dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tumbuhkan. Aspek ini (aspek T) berimplikasi pada usaha untuk menyertakan diri mereka, memuaskan mereka, dan menjawab pertanyaan


1. AMBAK (apa manfaat bagiku?). Pedoman untuk mengaplikasikan aspek T ini adalah harus memenuhi unsur berikut:

a. Mengapa. Hal yang dimaksudkan dengan pertanyaan ini adalah mengapa siswa harus ditarik ke dunia guru, dan guru harus masuk keduania siswa. Jawabannya adalah untuk menyertakan siswa dalam proses menelaah dan menamai apa yang sedang dipelajari. Penyertaan akan menciptakan jalinan kepemilikan bagi siswa. Dengan adanya penyertaan siswa akan merasa pernah mengalami sehingga mereka akan tertarik dan terpikat terhadap informasi yang disampaikan guru.

b. Pertanyaan tuntunan. Pada dasarnya setiap guru menyampaikan informsai baru, maka dlaam diri siswa akan timbul dua pertanyaan yang sangat mendasar yaitu apa manfaat informasi itu bagi siswa, dan apa yang harus dilakukan siswa untuk hal itu. Untuk hal ini, guru harus menciptakan ketertarikan siswa dan memikat mereka dengan memancing untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan pengalaman mereka. Dengan tekhnik ini siswa akan menemukan sendiri apa manfaat dari informasi yang disampaikan guru.

c. Strategi. Utnuk mendukung dua unsur sebelumnya guru dapat menyampaikan pelajaran dengan model pemberian pertanyaan memainkan lakon peek, drama, vidio, dan cerita. Strategi ini akan membawa siswa terlibat dalam lakon-lakon tersebut dan pada gilirannya akan merasa tertarik untuk terus mengetahui kelanjutan dari informasi yang disampaikan guru.

Aspek T dalam Quantum teaching ini akan membedakan tekhnik ini dengan tekhnik pembelajaran klasik. Letak perbedaanya adalah pada penyampaian tujuan belajar. Kalau dalam tekhnik tradisional guru terlebih dahulu menyebutkan secara langsung tujuan pembelajaran, namun dalam tekhnik Quantum tujuan guru akan selalu menyertakan siswa untuk menjawab pertanyaan sendiri yaitu Apa manfaat ini bagiku (AMBAK). Dengan demikian seorang

Quantum teacher akan selalu menyediakan kejutan-kejutan yang akan terus ditelusuri oleh siswa.

Dalam pembelajaran bahasa Arab teknik ini sangat efektif untuk memancing ketertarikan siswa terhadap materi pemlajaran dan kelanjutannya. Dengan demikian siswa akan merasa dialah yang sangat membutuhkan pelajaran tersebut.

  1. Alami. Aspek alami (A) dimaksudkan memberikan pengalaman belajar kepada siswa dan menumbuhkan keinginan untuk mengetahui yang baru.

Untuk melaksanakan aspek ini guru harus memanfaatkan pengetahuan dan rasa ingin tahu siswa. Adanya pengetahuan awal yang dimiliki siswa akan sangat membantu guru untuk menanamkan pengetahuan baru. Pengetahuan yang saling berkesinambungan tersebut bisa didapatkan apabila siswa merasa mengalami.

Dalam penyampain pelajaran, guru harus mampu menemukan metode bagaimana siswa dapat menggunakan pengetahua yang telah dimilikinya untuk menggali hal yang belum diketahuinya. Demikian pula dalam pembelajaran bahasa Arab, pengetahuan siswa tentang aspek-aspek keterampilan bahasa Arab hendaknya dimanfaatkan untuk menelusuri aspek yang belum diketahui.

  1. Namakan. Unsur ini merupakan kelanjutan dari unsur sebelumnya. Setelah siswa melewati unsur Tumbuhkan (T) dan Alami (A) siswa akan merasa penasaran dengan informasi yang baru didapatkan, maka pada saat itu waktu yang paling tepat untuk menamakan atau memberi identitas terhadap informasi yang baru saja didapatkan oleh siswa. Pemberian nama dapat membantu siswa mengingat atau mengidentifikasi informasi yang baru dalam memori otak mereka, oleh karena itu pemberian nama bisa saja berupa simbol, identitas, rumus, dan definisi. Bisa juga pemberian identitas tersebut dengan menggunakan angka-angka atau gambar yang mudah terekam dalam otak siswa.

Dalam pembelajaran bahasa Arab unsur ini sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran مفردات (kosa kata) dan فواعد (struktur bahasa).

  1. Demonstrasikan. Pada unsur ini titik tekannya berada pada proses pengaplikasian pengalaman yang telah didapat siswa pada unsur Alami (A) dan namakan (N). apapun bentuk pengetahuan yang telah berhasil dipatrikan dalam memori siswa dan telah diberi nama, maka dapat dilanjutkan pada tingkat pendemontrasian. Artinya pengetahuan (informasi) yang beru saja didapakatkan oleh siswa diusahakan untuk dikaitkan dengan kondisi lain di luar pelajaran tersebut dan dalam suasana yang berbeda. Dalam pembelajaran bahasa Arab dapat dicontohkan siswa yang telah berhasil menguasai beberapa مفردات diupayakan untuk menggunakan mendemonstrasikan) dalam kesempatan-kesempatan yang mereka alami. Untuk mendukung pelaksanaan demontrasi ini seorang duru bisa menggunakan media drama, cerita, atau sekedar percakapan-percakapan sederhana dalam kehidupan siswa di sekolah.
  2. Ulangi. Unsur ini merupakan proses akhir dari proses memasukkan informasi baru kedalam memori siswa. Setelah diyakini siswa dapat mengalami (unsur A) dan memberi identitas (unsur N serta dapa mengaplikasikan (unsur D) informasi baru tersebut, maka langkah berikutnya adalah memastikan bahwa siswa telah “bisa”. Dengan kepastian tersebut tidak saja penting bagi pihak guru, oleh karena itu siswa juga perlu mengetaui bahwa mereka tahu (saya tahu bahwa saya tahu).pelaksanaan unsur U ini bisa secara individual atau kelompok. Cara individu misalnya setiap siswa dapat disuruh mendemonstrasikan informasi yang telah didapat dengan berulang-ulang, sementara cara kelompok bisa dilaksanakan dengan sejumlah siswa memdemonstrasikan informasi tersebut sementara siswa yang lain menilai dan mengoreksi pemahaman kelompok tersebut. Dalam bahasa Arab unsur ini sangat penting, mengingat keterampilan bahasa yang baik hanya akan diperoleh dengan cara mengulang-ulang atau mendemonstrasikan pengetahuan bahasa yang telah dimiliki siswa.
Rayakan. Unsur ini merupakan unsur terakhir dan penutup dari keenam unsur Quantum teaching. Segala apa yang telah didpat siswa harus dirayakan agar siswa memiliki keyakinan dan kepercyaan diri bahwa

  1. mereka telah berhasil memahami informasi atau materi pelajaran. Strategi untuk merayakan dapat dilakukan dengan cara menyanyi bersama, memberi pujian membuat pemintasan atau mengadakan pesta di kelas. Dalam pembelajaran bahasa Arab cara yang bisa ditempuh adalah dengan memberikan kepercayaan pada siswa untuk mencoba kemampuan bahasanya dengan orang lain yang bukan anggota belajarnya, misalnya dengan teman lain kelas, guru yang lain, atau dengan orang ‘asing dalam kehidupan bahasa Arab mereka.

Penutup

Quantum teaching adalah tekhnik pembelajaran yang menekankan pada aktualisasi kecerdasan siswa dan keterampilan guru dalm mengekplorasikannya. Dengan demikian seorang guru senantiasa dituntut untuk memahami siswa seutuhnya baik kemampuannya dalam merespon informasi, mengkaitkannya dengan pengalaman sebelumnya, menangkap urgensi informasi tersebut, memberikan identitas pada informasi baru, dan mengaplikasikannya pada suasana yang berbeda.

Tulisan ringkas ini di buat dengan tujuan menjadi tambahan wawasan bagi pengajar bahasa Arab dalam menemukan metode dan teknik yang mudah untuk menyampaikan pemebelajaran bahasa Arab pada siswa Madrasah Tsanawiyah. Tentu saja tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan tekhnik dan model pembelajaran lain yang selama ini telah banyak diterapkan di lembaga kita.

Wa Allah A’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar